12/22/01

Home
about
essay
favorites
photo gallery
feedback

 

Syukur
Setiap dengar kata syukuran yang terbayang adalah ditraktir makan oleh yang baru mencapai prestasi, entah itu naik kelas, lulus ujian, naik pangkat, memperoleh anak, rumah ataupun mobil baru, dsb. Pasti ada maksud baik si pentraktir, namun kalau tidak hati-hati mudah sekali tergelincir menjadi amal riya, karena sulit sekali untuk menghapus niat pamer yang terbersit dalam benak, untuk menunjukkan rumah megah di real estat, keberhasilan menjadi boss, pengumuman memperoleh tambahan embel-embel nama, pengumuman sepulang dari mekah, sehingga harus punya priviledge di shaf terdepan meskipun dateng ke mesjid telat, dan sebagainya dan seterusnya...
Memang syukuran masih memiliki nilai positif, minimal untuk membagi rasa suka kepada kerabat dan handai taulan serta memberi "motivasi" bagi yang lain untuk meniru langkah dalam meraih keberhasilan.... tapi bagaimanapun itu sebenarnya agak menyimpang dari hakekat syukur itu sendiri.
Hakekat syukur itu terdiri atas tiga hal yang tidak bisa dipisah-pisah yakni:
Pertama: verbal atau sering disebut "basa-basi", misalnya seseorang diberi sesuatu kemudian mengucapkan "terima kasih". Dengan mengucapkan terima kasih, seolah-olah dalam pemberian itu si penerima merasa telah lepas ikatan dengan si pemberi, sehingga ia merasa memiliki otonomi penuh untuk mempergunakan pemberian sesuai kehendak hatinya tanpa perlu tahu keinginan si pemberi. Syukur dalam tingkat ini baru tingkat paling rendah.
Kedua: moral, yaitu suatu pengakuan terhadap eksistensi sipemberi dan menganggap bahwa pemberian adalah "amanat" dari si pemberi. Meskipun sudah mengucap terima kasih, ia masih merasa terikat dengan sipemberi. Sebagai amanat akan ada beban moral untuk memanfaatkan sesuai dengan keinginan si pemberi. Misalnya, kita dikaruniai panca indera, punya beban moral untuk mempergunakannya sesuai dengan "petunjuk" atau "tuntunan" yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi, yakni sebagai sarana untuk bertakwa kepadaNya. Syukur tingkat ini setingkat lebih tinggi dibandingkan syukur verbal, namun belum cukup, harus dilengkapi dengan tahap berikutnya.
Ketiga: operasional, adalah mempergunakan pemberian untuk kesejahteraan, atau bahasa agamanya "rahmatan lil 'alamin". Jadi, mensyukuri karunia sumber daya alam adalah dengan menggalinya seoptimal mungkin (dengan memperhatikan kelestariannya) dan memberinya nilai tambah sehingga sumber daya alam itu memberi manfaat yang lebih baik bagi kesejahteraan seluruh alam (rahmatan lil 'alamin). Mensyukuri nikmat kepandaian adalah dengan terus mengasah diri dan mengembangkannya dengan cara membaca (segala yang tersurat) dan "membaca" (segala yang tersirat), sehingga kepandaian yang kita miliki itu bisa menambah kesejahteraan alam sekitar kita. Mensyukuri nikmat harta adalah dengan memanfaatkan harta kita sehingga harta kita itu bermanfaat untuk kita maupun lingkungan. Itulah cara syukur yang sebenarnya.
Terngiang QS 14:7 yang sering diulang-ulang oleh pak modin di masjid kampung sewaktu kecil dulu: "La in syakartum la azii dannakum walain kafartum inna 'adzaabii lasadiid". Yang artinya kurang lebih: "Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih"
Wallahu a'lam
 
 
Akhir Ramadhan-- Ketika Ramadhan yang mulia akan meninggalkan kita, masih tersisa pertanyaan, adakah hamba termasuk yang memperoleh kemuliaan Ramadhan? Ya Allah... maafkan kalau hamba belum mampu merasakan nikmatnya Ramadhan yang mulia itu, karena sejujurnya, masih ada perasaan bahwa kepergiannya justru akan memperingan beban hamba nanti. Mungkinkah hamba ini memang termasuk "golongan yang terbelenggu" ketika Ramadhan?
Tidak ada persiapan istimewa ketika menyongsong kehadirannya, namun hamba begitu sibuk mengantar kepergiannya sehingga merelakan seluruh sumber daya yang hamba kumpulkan dengan susah payah selama setahun ini, Hamba-pun lebih menyesal kalau tidak bisa berlebaran dengan meriah ketimbang tidak mampu menjalankan puasa, tarawih, tadarus, dan amaliah Ramadhan lain dengan sempurna, Dengan gamang kusambut Shawal atau bulan peningkatan sebentar lagi, adakah yang meningkat dalam diri hamba setelah melewati Ramadhan ini? Karena semakin dekat ke penghujung bulan ini, justru waktu hamba semakin banyak yang tersita untuk persiapan kemeriahan hura-hura lebaran ketimbang untuk menghadap dan mengingatMu.
Adakah di bulan-bulan selanjutnya nanti hamba masih bersedia meluangkan waktu untuk melangkah ke rumah-Mu untuk bershalat jamaah seperti di bulan Ramadhan? Adakah di tengah kesibukanku nanti masih terbersit niat untuk membaca ayat-ayat-Mu? Adakah ditengah malam, hamba masih bersedia bangkit dari tidur, tidak lagi untuk makan sahur tetapi untuk menyembah-Mu?. Adakah hamba terus berupaya untuk menjauhi segala sesuatu yang sia-sia, menahan gejolak nafsu, berpaling dari maksiat dan menjauhi larangan-larangan-Mu?
Ya Allah... hamba mohon pertolonganMu untuk mampu melaksanakan itu semua dan berilah kami kesempatan untuk dapat merasakan nikmat Ramadhan lagi di tahun yang akan datang..

 

This site was last updated 12/22/01